Bibir Jurang

Hampir saja aku terpeleset di bibir jurang
Jatuh, menggelinding lalu menghilang
Tak ditemukan! Hingga akhirnya tersesat tak bisa pulang

Aku menangis dalam kekalutan
Tanpa sadar diri hampir terseret pada kematian
Diselamatkan oleh sekitar
Menarik kuat, hingga akhirnya hanya mampu menangis sesenggukan

Mengapa mengharap kesengsaraan?
Bila kebahagiaan masih memiliki harapan
Mengapa harus membalut diri dengan kekalutan?
Jika sebenarnya kamu mampu menunjukkan kelembutan

Maafkan pikiran yang tak selalu tertuju pada Tuhan
Maafkan kelelahan yang berujung pada keputus asaan
Pernahkah kamu lihat sumur yang dalam?
Bukankah di titik terendah masih ada kehidupan?
Lalu, kenapa hanya ingin mengangkasa?

Ke marilah akan kuajarkan sedikit ilmu tentang luar angkasa
Jangan berharap diterbangkan terlalu tinggi
Di sana kamu akan kehilangan keleluasanmu
Diombang-ambing dengan ketiadaan gravitasi

Lihatlah! Tempatmu adalah bumi
Kau bebas bergerak, menghirup udara yang banyak
Di sana? Apa yang ingin kamu dapatkan?
Sedang oksigen saja harus perlu kausiapkan

Irma Khairani Marbun
Menulis adalah cara menyembuhkan diri. Jika kamu tak menemukan telinga tuk mendengar keluhmu. Maka! Ciptakanlah karya agar kamu menjadi bangga karenanya.